Akses.co.id — Jerawat hormon menjadi salah satu jenis masalah kulit yang kerap muncul, khususnya pada perempuan, dan seringkali sulit diatasi dengan perawatan biasa. Kondisi ini dipicu oleh fluktuasi hormon dalam tubuh yang berujung pada produksi minyak berlebih pada kulit.
Apa Itu Jerawat Hormon?
Jerawat hormon adalah jenis jerawat yang timbul akibat perubahan atau fluktuasi kadar hormon, terutama hormon androgen. Hormon ini memiliki peran penting dalam produksi sebum atau minyak pada kulit.
Dokter kulit bersertifikat, Joshua Zeichner, menjelaskan bahwa jerawat jenis ini seringkali muncul pada waktu-waktu tertentu, seperti menjelang siklus menstruasi. “Jerawat hormon mengacu pada kondisi jerawat yang muncul pada perempuan di sekitar waktu siklus menstruasi, ketika fluktuasi hormon merangsang kelenjar minyak sehingga memicu timbulnya jerawat,” ujar Zeichner, seperti dilansir Real Simple, Sabtu (25/4/2026).
Ketika keseimbangan hormon terganggu, kelenjar minyak akan menjadi lebih aktif dan memproduksi sebum dalam jumlah berlebih. Akumulasi minyak ini kemudian dapat menyumbat pori-pori, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peradangan, dan akhirnya berkembang menjadi jerawat.
Penyebab Jerawat Hormon
Secara umum, pembentukan jerawat melibatkan kombinasi beberapa faktor, termasuk produksi minyak berlebih, penumpukan sel kulit mati, kehadiran bakteri, dan peradangan. Namun, pada jerawat hormon, faktor hormonal menjadi pemicu utama yang memperparah kondisi tersebut.
Kelebihan produksi sebum membuat pori-pori lebih rentan tersumbat dan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri penyebab jerawat. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan jerawat biasa, tetapi juga dapat memicu munculnya jerawat yang lebih dalam dan meradang, seperti jerawat kistik yang disertai rasa nyeri.
Oleh karena itu, jerawat hormon seringkali membutuhkan penanganan yang lebih intensif dibandingkan jenis jerawat lainnya, karena perawatan topikal biasa mungkin tidak cukup efektif.
Ciri-Ciri Jerawat Hormon
Jerawat hormon memiliki pola kemunculan yang khas dan membedakannya dari jenis jerawat lain. Menurut dokter kulit Marisa Garshick, jerawat ini cenderung muncul di area bagian bawah wajah.
“Jerawat hormon biasanya muncul di sepertiga bagian bawah wajah, terutama di garis rahang dan dagu, tetapi juga bisa muncul di dada dan punggung,” jelas Garshick. Ia menambahkan, jerawat ini cenderung memiliki bentuk yang lebih dalam, menyerupai kista, terasa nyeri, dan sering muncul berulang dalam siklus tertentu.
Selain itu, jerawat hormon juga dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), meskipun tidak semua individu yang mengalami gangguan hormon serius memiliki kondisi ini.
Pola kemunculan yang berulang inilah yang seringkali membuat jerawat hormon terasa lebih mengganggu dan sulit dikendalikan.
Penanganan Jerawat Hormon
Tidak ada satu metode tunggal yang cocok untuk semua orang dalam mengatasi jerawat hormon. Penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit individu dan penyebab mendasar yang memengaruhinya.
Garshick menilai bahwa pengobatan jerawat hormon umumnya memerlukan kombinasi terapi. “Penting juga untuk mengatasi penyebab jerawat lainnya dengan penggunaan retinoid serta benzoyl peroxide. Namun untuk komponen hormonal, sering kali paling efektif ditangani dengan pil kontrasepsi tertentu atau spironolactone,” ujarnya.
Selain penanganan medis, perubahan gaya hidup juga memegang peranan penting. Menjaga pola makan yang sehat, mengelola tingkat stres, dan rutin melakukan perawatan kulit dapat membantu mengontrol jerawat hormon secara efektif.
Pendekatan yang menyeluruh merupakan kunci agar kondisi kulit dapat membaik secara optimal. Meskipun umum terjadi, jerawat hormon sebaiknya tidak dianggap remeh, terutama jika muncul secara terus-menerus atau semakin memburuk. Konsultasi dengan dokter kulit sangat disarankan untuk mendapatkan solusi yang paling sesuai.
Ikuti Akses.co.id
