MANOKWARI, KOMPAS.com – Kemarahan orang tua siswa memuncak menyusul dugaan penganiayaan yang terjadi di SMA Taruna Nusantara Kasuari, Manokwari, Papua Barat, pada Rabu (22/4/2026) malam. Setelah melaporkan insiden tersebut ke pihak kepolisian, puluhan orang tua mendatangi kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Sanggeng, Manokwari, lokasi sekolah berada. Pagar sekolah sempat ditutup, namun sejumlah orang tua yang tidak terima perlakuan terhadap anak mereka akhirnya menerobos masuk.
“Pendidikan karakter seperti apa begini, kita punya darah daging diperlakukan begini,” ujar salah seorang orang tua murid saat menerobos pagar sekolah, Kamis (23/4/2026), dilansir dari Kompas.com.
Korban Diduga Dianiaya Puluhan Senior
Dugaan penganiayaan tersebut menimpa siswa kelas X, yang mengakibatkan beberapa siswa mengalami luka, bahkan ada yang dilaporkan menderita patah tulang.
“Kita lagi belajar persiapan ulangan tiba-tiba sekitar 40 orang masuk. Saya kena pukul awal dari belakang kepala lalu dihajar pakai doka di depan,” kata AS, salah satu siswa kelas X yang mengaku menjadi korban. Menurut AS, saat kejadian, ia dan sekitar 10 siswa lainnya sedang belajar mandiri di dalam kelas sebelum puluhan senior masuk dan melakukan pemukulan. Ia mengaku tidak mengetahui kesalahan apa yang diperbuat hingga para siswa diminta meletakkan buku sebelum dipukul.
Ketua Paguyuban Angkatan V SMA Taruna Kasuari Nusantara, Markus Waran, menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 19.00 WIT. Aksi tersebut diduga melibatkan siswa kelas atas yang menyerang adik kelasnya.
Berdasarkan laporan yang diterima, kekerasan dilakukan dengan cara mematikan lampu, lalu menyerang siswa yang lebih muda secara bersama-sama. Diduga kuat ada yang menggunakan benda tumpul seperti kayu dan besi.
“Kalau hanya pemukulan biasa mungkin masih bisa dimaklumi sebagai bentuk pembinaan, tetapi kalau sudah menggunakan alat seperti kayu dan besi, ini sudah tidak bisa ditoleransi. Ini bukan lagi mencerminkan sekolah taruna,” tegas Markus Waran, Kamis, dilansir dari TribunPapuaBarat.
Tuntut Sekolah dan Dinas Terkait Mengusut Tuntas
Saat ini, orang tua siswa dari berbagai daerah di Papua Barat telah sepakat menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut ke kepolisian, berdasarkan hasil visum terhadap korban. Markus juga meminta Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, hingga Gubernur Papua Barat untuk turun langsung meninjau kondisi sekolah dan mengusut tuntas penyebab kejadian tersebut.
“Kami minta jangan ada yang ditutup-tutupi. Jika memang ada masalah serius dalam pengelolaan sekolah, harus dibuka secara transparan agar bisa diperbaiki,” katanya.
Pihaknya juga menuntut pertanggungjawaban penuh dari sekolah dan instansi terkait atas kejadian ini. Markus bahkan mengusulkan adanya evaluasi menyeluruh terhadap manajemen sekolah, termasuk kemungkinan pergantian kepala sekolah dan jajaran pengelola.
“Kalau memang tidak mampu mengelola dengan baik, lebih baik dievaluasi total. Sekolah ini harus menjadi kebanggaan, bukan justru mencoreng dunia pendidikan di Papua Barat,” pungkasnya.
Sekolah Keluarkan 60 Siswa Terduga Pelaku
Sementara itu, Kepala SMA Taruna Nusantara Kasuari, Yusuf Ragainaga, menyatakan bahwa sebanyak 60 siswa yang diduga terlibat telah dikeluarkan dari sekolah. “60 siswa sudah kita keluarkan tadi, mereka keluar dengan koper,” kata Yusuf.
Ia juga menyatakan pihak sekolah mengakomodasi usulan evaluasi terhadap pola pembinaan berbasis asrama yang selama ini diterapkan.
Dinas Pendidikan Sarankan Korban Segera Visum
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, mengatakan pihaknya menyarankan orang tua siswa korban segera melakukan visum sebagai dasar proses lanjutan. Menurut dia, dinas akan bersikap adil dalam menangani kasus tersebut.
“Pelaku dalam insiden ini harus diproses sesuai dengan aturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku. Dan pelaku harus bertanggung jawab sesuai dengan perbuatan yang dilakukan,” kata Barnabas Dowansiba.
Ia juga menyesalkan adanya kejadian di luar batas kewajaran yang disebut beberapa kali terjadi sebelumnya di lingkungan sekolah tersebut. Barnabas menambahkan, pemerintah provinsi sedang menyiapkan pembangunan gedung sekolah baru yang lebih representatif di Warmare, yang ditargetkan dapat digunakan pada 2028 dengan fasilitas yang lebih memadai.






