— Solo, Indonesia – Lonjakan harga bahan bakar diesel nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite mendorong sebagian pemilik kendaraan diesel untuk mencari alternatif yang lebih ekonomis. Biosolar, bahan bakar solar subsidi, kini menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan. Namun, penggunaannya pada mobil diesel modern memerlukan kehati-hatian ekstra karena berpotensi memengaruhi performa mesin hingga komponen vital seperti injektor.

Esa, pemilik bengkel Denso Esa Diesel di Solo, menegaskan bahwa penggunaan Biosolar pada mobil diesel modern sebetulnya diperbolehkan, asalkan diterapkan sesuai kaidah yang tepat. Tujuannya adalah untuk menjaga performa mesin tetap optimal dan mencegah kerusakan dini.

“Syarat pertama mobil harus sering digunakan, dalam artian tidak membuat Biosolar lama-lama mengendap di dalam tangki, pastikan solar habis dalam waktu maksimal seminggu untuk menghindari pengendapan kandungan air,” ujar Esa kepada Kompas.com, belum lama ini.

Menurut Esa, kendaraan yang jarang beroperasi justru berisiko lebih tinggi mengalami masalah jika mengonsumsi Biosolar. Hal ini disebabkan oleh potensi kandungan air dalam bahan bakar yang lebih mudah masuk ke sistem injektor. Lebih lanjut, Esa mengimbau para pemilik kendaraan yang terpaksa menggunakan Biosolar untuk meningkatkan frekuensi perawatan, khususnya pada bagian filter bahan bakar.

Ia menyarankan penggantian filter dilakukan secara berkala, bahkan dengan interval yang lebih pendek dari jadwal standar. “Penggunaan solar kualitas rendah butuh perawatan yang lebih intens untuk memastikan kandungan air tidak masuk ke injektor, salah satunya dengan mengganti filter solar tiap 5.000 Km, bahkan bila filter cepat sekali kotor perlu turun tangki,” jelas Esa.

Kualitas Bahan Bakar Sangat Menentukan

Pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, turut angkat bicara mengenai dampak kualitas bahan bakar terhadap mesin diesel modern. Menurutnya, mesin diesel generasi terbaru sangat menuntut kualitas solar yang baik untuk bisa mencapai performa maksimal sekaligus menekan biaya perawatan.

“Mesin diesel modern menuntut bahan bakar solar yang kualitasnya bagus juga untuk mendapatkan performa yang optimal dan biaya maintenance yang rendah,” kata Jayan kepada Kompas.com, baru-baru ini.

Jayan merinci, penggunaan solar berkualitas rendah dapat secara langsung menurunkan performa mesin. Penurunan ini, lanjutnya, bisa terasa signifikan tergantung pada seberapa buruk kualitas bahan bakar yang digunakan.

“Kalau di kasih solar kualitas rendah akan drop performance-nya mungkin sekitar 10 persen, tergantung kualitas solar yg dipakai,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar penurunan performa, Jayan menambahkan bahwa solar berkualitas rendah juga akan memaksa pemilik kendaraan untuk melakukan perawatan lebih sering. Bahan bakar yang kualitasnya di bawah standar, menurutnya, cenderung mempercepat penumpukan kotoran pada komponen mesin, terutama filter. Selain itu, ada potensi munculnya endapan dan pengentalan bahan bakar.

Dengan demikian, meskipun Biosolar dapat menjadi solusi saat harga Pertamina Dex dan Dexlite melambung, penggunaannya tetap harus diimbangi dengan pemakaian yang bijak dan perawatan ekstra. Hal ini krusial untuk mencegah dampak negatif terhadap performa maupun umur panjang komponen mesin diesel modern.