Akses.co.id — Sebanyak 98 mata air di Kawasan Bandung Utara (KBU) dilaporkan mengalami tren penurunan debit. Fenomena ini menjadi alarm serius bagi ketahanan air nasional, mengingat alih fungsi lahan yang masif di zona tangkapan air. Jika tidak segera ditangani, sumber air yang telah menghidupi warga selama seabad lebih terancam punah.
Data mengejutkan ini diungkap oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam webinar DIGDAYA #21 yang digelar pada Rabu (22/4/2026). Ananta Purwoarminta, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, memaparkan hasil studi kasus mengenai kondisi hidrogeologi mata air endapan vulkanik di wilayah tersebut.
Studi tersebut menemukan bahwa 98 mata air di KBU mengalami penurunan debit. Ironisnya, penurunan ini juga melanda sumber air bersejarah seperti Mata Air Ciwangun dan Mata Air Cibadak, yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat sejak tahun 1921.
“Karakteristik hidrogeologi vulkanik di Bandung Utara sangat unik, di mana air hujan meresap melalui batuan permeabel pada ketinggian 1.200 hingga 1.700 mdpl. Namun efektivitas resapan terganggu akibat hilangnya area resapan alami,” jelas Ananta Purwoarminta, seperti dikutip dari laman BRIN.
Melacak Air dengan Teknologi Isotop
Untuk memahami lebih dalam kerusakan yang terjadi, tim riset BRIN memanfaatkan teknologi isotop lingkungan dan hidrogeokimia. Teknologi canggih ini memungkinkan para peneliti untuk menelusuri asal-usul serta jalur aliran air tanah secara akurat.
Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menetapkan zona lindung yang harus steril dari pembangunan fisik. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di wilayah tersebut.
“Temuan ini menjadi acuan krusial bagi pemerintah dalam menentukan kawasan yang wajib dilindungi demi menjaga keberlanjutan sumber daya air,” ungkap Ananta.
Imbuhan Buatan sebagai Solusi Darurat
Sebagai langkah mitigasi awal, BRIN mengusulkan penerapan teknologi imbuhan buatan. Tujuannya adalah untuk mengompensasi berkurangnya area resapan yang kini telah tertutup oleh bangunan.
Teknologi ini mencakup pembangunan sumur resapan, biopori, dan parit imbuhan yang dirancang secara terukur. Tujuannya adalah untuk mengarahkan air hujan agar kembali masuk ke dalam akuifer atau lapisan pembawa air.
Selain permasalahan air, Ananta juga menyoroti pergeseran peran ilmu kebumian yang kini mulai diarahkan untuk mendukung energi bersih, seperti pengembangan gas hidrogen alami demi mencapai target net zero emission. Namun, ia menekankan bahwa fokus utama saat ini tetap pada perlindungan zona tangkapan air sebagai kebutuhan fundamental masyarakat.
Tanpa tindakan tegas dalam tata kelola ruang, keseimbangan neraca air tanah akan sulit dipertahankan. “Sinergi antara riset kebumian dan kebijakan tata ruang yang tepat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan,” tandas Ananta.
Ikuti Akses.co.id
