Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 249,116 poin atau 3,38 persen pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Pelemahan signifikan ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 2 triliun, ditambah dengan tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa sentimen negatif global, khususnya suku bunga yang masih tinggi, menjadi pemicu utama keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sejak awal tahun 2026, akumulasi jual bersih asing telah mencapai Rp 40 triliun.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) merinci bahwa pada Jumat, investor asing melakukan jual bersih di pasar reguler senilai Rp 3,02 triliun. Meskipun demikian, pasar tunai dan negosiasi mencatat beli bersih sebesar Rp 1,02 triliun, sehingga total jual bersih asing di seluruh pasar adalah Rp 2 triliun.
Aksi Jual Terkonsentrasi pada Saham Perbankan Besar
Aksi jual investor asing pada hari itu cenderung terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran jual terbesar, dengan catatan net sell Rp 2,1 triliun. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyusul dengan net sell Rp 618,9 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 447,3 miliar.
Di sisi lain, saham yang mencatat beli bersih signifikan antara lain PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dengan Rp 814,6 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) sebesar Rp 277,4 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 77,8 miliar.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau melemah, bergerak di kisaran Rp 17.200 hingga Rp 17.300 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi dan potensi beban impor yang lebih tinggi.
Hendra Wardana menambahkan, penurunan IHSG pada hari tersebut juga diperparah oleh aksi panic selling dan forced sell dari investor domestik. Hal ini terlihat dari breadth market yang sangat negatif, di mana saham-saham yang mengalami penurunan jauh mendominasi, serta tekanan yang merata di seluruh sektor, khususnya energi, infrastruktur, dan properti.
Proyeksi Teknikal dan Rekomendasi untuk Investor Ritel
Volume perdagangan yang besar disertai penurunan tajam mengindikasikan adanya distribusi saham. IHSG saat ini sedang menguji area support krusial di rentang 7.100 hingga 7.125. Jika level ini tidak mampu bertahan, pelemahan lebih lanjut berpotensi berlanjut menuju area 6.950 hingga 7.000.
“Namun secara teknikal, karena penurunan sudah cukup dalam dalam waktu singkat, peluang technical rebound tetap ada, terutama jika muncul sentimen positif seperti penguatan rupiah atau stabilisasi pasar global,” papar Hendra.
Meskipun demikian, potensi rebound dinilai masih terbatas. Resistance awal diperkirakan berada di level 7.150 hingga 7.200. Pasar secara keseluruhan masih berada dalam fase tren penurunan dengan volatilitas yang tinggi.
Sikap Investor Ritel di Tengah Ketidakpastian Pasar
Menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, Hendra menyarankan investor ritel untuk mengadopsi pendekatan yang defensif dan selektif. Bagi investor jangka pendek, disarankan untuk mengurangi agresivitas dan fokus pada strategi trading cepat dengan disiplin cut loss yang ketat.
Sementara itu, investor jangka menengah dan panjang dapat mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental yang kuat. “Penting untuk menjaga cash level tetap tinggi sebagai buffer menghadapi ketidakpastian, karena kondisi saat ini lebih didominasi faktor eksternal dibandingkan fundamental domestik semata,” tegasnya.
Sektor-sektor yang berbasis komoditas dan bersifat defensif dinilai lebih berpotensi tahan terhadap pelemahan rupiah. Beberapa saham yang disarankan untuk diperhatikan dalam strategi trading jangka pendek antara lain PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dengan target harga Rp 1.000 hingga Rp 1.100, serta PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) di kisaran Rp 1.700 hingga Rp 1.810.
Saham emiten pertambangan seperti PT Timah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga berpotensi mengikuti pergerakan harga logam, dengan target masing-masing di Rp 3.900-Rp 4.070 dan Rp 4.000-Rp 4.200.
Perlu dicatat bahwa rekomendasi tersebut bersifat jangka pendek, mengingat tren besar IHSG masih dalam tekanan. Investor disarankan untuk terus mencermati pergerakan nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga global, serta pergerakan harga komoditas.
Arus dana asing tetap menjadi indikator utama yang perlu dipantau untuk mengukur arah pasar. Selain itu, stabilitas yield obligasi pemerintah dan respons kebijakan yang dikeluarkan juga akan berpengaruh pada kepercayaan pasar.
Upaya menjaga stabilitas rupiah dan likuiditas pasar dinilai krusial untuk meredam tekanan yang ada. Penguatan partisipasi investor institusi domestik juga diharapkan dapat menjadi penahan arus keluar dana asing. Komunikasi kebijakan yang konsisten dari otoritas juga berperan penting dalam meredam kepanikan di pasar.
Secara jangka panjang, pendalaman pasar modal dan peningkatan free float saham dianggap penting untuk memperkuat ketahanan pasar terhadap gejolak eksternal.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Pastikan untuk melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Ikuti Akses.co.id
