Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Meski diwarnai ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk melakukan perjalanan terpantau tidak surut secara signifikan. Kondisi ini justru mendorong pergeseran preferensi destinasi.
Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, Gaery Undarsa, mengungkapkan bahwa pemesanan tiket pesawat dan paket wisata di platformnya menunjukkan tren yang stabil pasca-memanasnya konflik Iran-AS pada akhir Februari 2026. “Thankfully, pariwisata kita sebenarnya, saya tidak bilang super bagus, tapi kita juga sebenarnya tidak buruk, dan kuartal satu kita itu, walaupun ada perang, tetap bagus,” ujar Gaery dalam konferensi pers perayaan dua tahun tiket Green di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Permintaan perjalanan melalui tiket.com bahkan diprediksi akan terus meningkat menjelang libur panjang pada Mei 2026 dan libur sekolah di pertengahan tahun. “Jadi sepertinya akan terus melaju. Nanti mungkin setelah bulan Juli kita tidak tahu, tapi secara umum, jujur, kami masih cukup optimis untuk ini,” tambahnya.
Senada dengan itu, Vice President Business Development Golden Rama Tours & Travel, Kitty Chandra, juga tidak melihat adanya penurunan drastis dalam jumlah pemesanan tur maupun tiket di industri pariwisata akibat konflik Timur Tengah. “Yang menarik di sini, permintaan itu tidak hilang. Permintaan itu kalau boleh kami bilang sekarang lebih tersegmentasi,” jelas Kitty dalam pertemuan media, Selasa (21/4/2026).
Beberapa pelancong kini tidak keberatan dengan kenaikan harga tiket pesawat dan memilih untuk tetap bepergian dengan anggaran yang lebih besar. Situasi ini juga membuka peluang bagi wisatawan domestik untuk lebih mengeksplorasi keindahan alam dan budaya Indonesia.
Pergeseran Destinasi Menjadi Pilihan
Gaery Undarsa menyarankan momen ini dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menjelajahi destinasi domestik. Hal ini mengingat adanya potensi pembatalan dan pembatasan penerbangan, terutama ke kawasan Timur Tengah, serta kenaikan harga tiket pesawat akibat lonjakan tarif avtur pada beberapa maskapai.
“Menurut saya malah orang akan berpikir-pikir, sepertinya lagi ribet di luar negeri, mendingan traveling domestik saja,” pungkasnya.
Kitty Chandra juga mencatat adanya perubahan destinasi wisata dalam sebulan terakhir, dengan Asia kini menjadi magnet utama yang dianggap sebagai kawasan aman. Beberapa destinasi di Asia yang diminati wisatawan di tengah konflik Timur Tengah antara lain Jepang, Hong Kong, Korea, dan China.
Perkembangan destinasi wisata di Asia yang terus menawarkan pengalaman beragam turut menarik minat wisatawan. Contohnya, China kini menawarkan pengalaman melihat aurora dengan durasi perjalanan yang lebih singkat, sekitar 10-11 hari, dibandingkan ke Eropa Utara yang umumnya memakan waktu hingga 15 hari.
“Tujuan destinasi di domestik pun sangat menarik, seperti Labuan Bajo. Bahkan banyak yang ke Sumba dan yang lainnya,” tutup Kitty.
Ikuti Akses.co.id
