Gaya fashion anak punk, yang identik dengan kesan anti-mainstream, berani, dan ekspresif, ternyata lebih dari sekadar penampilan. Setiap item yang dikenakan merepresentasikan identitas, sikap, bahkan nilai hidup seperti kemandirian. Hafid (22), yang akrab disapa Kipli, anak punk asal Pemalang yang kini beraktivitas di Solo, mengungkapkan bahwa fashion baginya adalah bentuk pengenal diri.
“Fashion itu buat menunjukkan identitas, biar orang tahu kita punk,” ujar Kipli saat ditemui Kompas.com di kawasan Manahan, Solo, Selasa (21/4/2026).
Fashion punk mulai dikenal luas pada pertengahan 1970-an di London dan New York City, seiring dengan kemunculan subkultur musik punk rock. Gaya ini berkembang sebagai bentuk perlawanan terhadap norma sosial dan tatanan industri fashion yang mapan saat itu. Vivienne Westwood, desainer Inggris, menjadi salah satu figur kunci yang mempopulerkan gaya punk melalui butiknya “Sex” yang dikelola bersama Malcolm McLaren, manajer band legendaris Sex Pistols.
Sejak awal, ciri khas fashion punk sangat kental dengan konsep DIY (do it yourself). Merobek pakaian sendiri, menambahkan pin, hingga mengecat ulang jaket atau celana menjadi bentuk ekspresi personal yang masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas anak punk di seluruh dunia. Tak heran, sejumlah item fashion tertentu menjadi penanda ikonik yang mudah dikenali.
Item Fashion Ikonik Anak Punk
Berikut adalah beberapa item fashion yang menjadi ciri khas anak punk:
- Jaket Kulit: Simbol paling kuat dalam fashion punk, jaket kulit biasanya dihiasi pin, patch, atau tulisan tertentu yang mencerminkan identitas dan karakter pemakainya. “Biasanya ada tambahan kayak spike atau pin biar lebih kelihatan,” kata Kipli mengenai item yang paling sering ia gunakan untuk menunjukkan gaya punk.
- Sepatu Boots: Identik dengan kesan tangguh, sepatu boots menjadi pelengkap gaya punk yang fungsional untuk aktivitas sehari-hari. Kipli menambahkan, “Kalau punya boots biasanya dipakai, tapi kadang juga pakai sandal, tergantung kebutuhan aja.”
- Rambut Mohawk: Gaya rambut menjulang ke atas ini menjadi ikon utama anak punk dan seringkali diberi warna mencolok. Kipli mengaku menata rambutnya sendiri menggunakan hairspray agar bisa berdiri tegak. “Bisa tahan seharian, asal tidak kena hujan,” tuturnya.
- Kaus Band: Kaus dengan logo atau nama band punk menjadi elemen penting yang menunjukkan selera musik dan kedekatan dengan kultur punk.
- Celana Robek atau Distressed: Tampilan celana yang robek atau usang dipilih untuk memperkuat kesan anti-mainstream, mencerminkan sikap yang tidak terikat pada standar umum.
- Aksesori Spike atau Studded: Paku kecil atau logam runcing yang ditempel pada jaket, gelang, atau sabuk memberikan kesan tegas dan berani. Kipli sendiri mengaku memasang beberapa aksesori ini sendiri. “Iya, ini dipasang sendiri, biar sesuai sama yang kita mau,” ujarnya.
- Patch dan Pin: Tempelan kain (patch) dan pin sering digunakan untuk menghias jaket atau tas, berisi simbol atau pesan yang mencerminkan pandangan pemakainya.
- Jaket Denim Kustom: Selain jaket kulit, jaket denim juga populer dan sering dimodifikasi secara mandiri dengan lukisan atau tambahan patch. Kipli menceritakan jaket denim yang ia pakai berawal dari hasil thrifting seharga Rp20.000, lalu ia modifikasi dan warnai menjadi hitam.
- Pewarna Rambut Mencolok: Warna rambut seperti merah, hijau, atau biru sering dipilih sebagai bentuk ekspresi diri.
Lebih dari Sekadar Gaya
Bagi Kipli, penampilan nyentrik ini bukan semata-mata gaya, melainkan bagian dari identitas yang ia jalani. Ia menegaskan bahwa fashion punk tidak bisa dipisahkan dari nilai kemandirian dan kreativitas, di mana banyak anak punk terbiasa membuat atau memodifikasi sendiri pakaian mereka.
“Menurutku, anak punk itu identik sama DIY (do it yourself) sih,” kata Kipli.
Di balik tampilan yang khas, gaya ini menyimpan pesan tentang kebebasan berekspresi sekaligus tanggung jawab atas pilihan hidup. “Yang penting jadi diri sendiri dan tetap mandiri,” pungkas Kipli.






