Akses.co.id — BENGKULU TENGAH – Sebanyak delapan siswa di Kabupaten Bengkulu Tengah mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi hidangan di sekolah pada Kamis (23/4/2026). Insiden yang menyebabkan para siswa mengalami mual dan muntah ini terjadi di SMP Negeri 3 Bengkulu Tengah, dengan sebagian korban dilarikan ke Klinik Rizky Medika.
Menyikapi kejadian ini, Bupati Bengkulu Tengah, Rachmat Riyanto, langsung menginstruksikan pembentukan tim investigasi untuk mendalami penyebab pasti keracunan tersebut. “Kami instruksikan tim untuk investigasi kebenaran soal ini,” ujar Rachmat Riyanto kepada wartawan, Kamis (23/4/2026).
Bupati juga memastikan seluruh fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun layanan kesehatan lainnya, memberikan penanganan medis maksimal kepada para siswa yang terdampak. Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan meminta masyarakat untuk tetap tenang sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.
“Intinya kami sangat prihatin dengan kejadian ini dan menghimbau orang tua serta masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganannya kepada pemerintah daerah,” katanya. Terkait operasional penyediaan makanan di sekolah, Bupati menegaskan pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Investigasi dan Penanganan Medis
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah, Barti Hasibuan, menjelaskan bahwa pihaknya bersama unsur pemerintah daerah telah turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi para korban. Dari data yang dihimpun, terdapat 7 siswa SMP 3 Bengkulu Tengah dan 1 siswi SDN 1 Bengkulu Tengah yang terindikasi keracunan.
“Kami sudah melakukan monitoring dan mengecek langsung di lapangan. Ada 7 orang siswa SMP 3 Bengkulu Tengah dan 1 orang siswi SDN 1 Bengkulu Tengah yang terindikasi keracunan,” terang Barti Hasibuan.
Gejala mual dan muntah mulai dirasakan para siswa setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan ke sekolah. Pihak sekolah segera mengambil tindakan dengan membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan terdekat dan menghentikan konsumsi makanan tersebut untuk mencegah bertambahnya korban.
“Setelah mereka makan, muncul gejala mual dan muntah. Pihak sekolah langsung mengantisipasi dengan membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelas Barti. “Langsung diantisipasi agar makanan yang tersisa tidak lagi dikonsumsi oleh siswa lainnya,” tambahnya.
Kondisi Korban dan Langkah Pencegahan
Dari total delapan korban, tiga di antaranya sempat mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan pemberian infus. Namun, Barti melaporkan bahwa seluruh siswa kini dalam kondisi membaik.
“Alhamdulillah sekarang mungkin semua sudah pulih. Memang ada 3 orang yang harus diinfus, tapi kondisinya sudah baik,” ungkap Barti.
Meskipun demikian, Dinas Kesehatan tetap melakukan observasi lanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala sisa. Pengawasan juga diperluas ke sekolah-sekolah lain yang menerima makanan dari sumber yang sama, mengingat distribusi makanan tersebut tidak hanya menyasar satu sekolah.
“Kami sekarang sedang melakukan pemantauan ke sekolah-sekolah penerima manfaat lainnya,” ujar Barti.
Untuk memastikan akar permasalahan, sampel makanan telah diambil dan akan segera diuji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Barti menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
“Selama ini kita sudah koordinasi dan punya satgas. Ke depan koordinasi ini akan lebih kita intensifkan lagi, lebih kita kuatkan lagi antara seluruh stakeholder,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
