— Jakarta – Kucing rumahan kerap dicap sebagai makhluk misterius, dengan berbagai tingkah laku yang sering disalahartikan oleh pemiliknya. Tatapan tajam, aksi menjatuhkan barang, hingga buang air sembarangan, kadang diinterpretasikan sebagai bentuk “protes” atau bahkan sikap menyebalkan. Padahal, di balik perilaku tersebut, tersimpan cara kucing berkomunikasi yang sering kali luput dari pemahaman manusia.

Sejumlah perilaku kucing yang kerap keliru ditafsirkan oleh pemiliknya, sebagaimana dirangkum dari laman Kinship, mencakup berbagai aspek interaksi antara kucing dan manusia.

Perilaku Kucing yang Sering Disalahpahami

1. Tatapan Mata Menyipit Bukan Berarti Menghakimi

Banyak orang menganggap tatapan mata kucing yang setengah tertutup sebagai ekspresi sinis atau menghakimi. Namun, kenyataannya, kondisi ini justru bisa menjadi indikasi rasa kasih sayang. Kucing yang mengedipkan mata secara perlahan merupakan tanda kehangatan. Selain itu, tatapan tersebut bisa jadi menunjukkan bahwa kucing merasa rileks, lelah, atau sekadar mengamati lingkungan sekitarnya. Anggapan bahwa kucing memiliki kemampuan menghakimi manusia dinilai tidak tepat, karena perilaku tersebut memerlukan sistem nilai yang kompleks yang tidak dimiliki oleh hewan.

2. Buang Air di Luar Kotak Pasir Bukan Karena Marah

Ketika kucing memilih untuk buang air di luar kotak pasir yang telah disediakan, banyak pemilik mengaitkannya dengan rasa kesal hewan peliharaannya. Padahal, masalah ini lebih sering berkaitan dengan kondisi kotak pasir itu sendiri. “Jika mereka buang air di samping kotak pasir, itu biasanya merupakan indikasi bahwa mereka memiliki masalah dengan tempat buang air mereka,” demikian dijelaskan. Faktor seperti ukuran kotak yang terlalu kecil, kebersihan yang kurang terjaga, atau jenis pasir yang tidak nyaman dapat menjadi penyebab utama. Lebih lanjut, perilaku ini juga bisa menjadi bentuk “penandaan asosiatif”, yaitu upaya kucing untuk mencampurkan aromanya dengan aroma pemilik demi memperkuat ikatan emosional.

3. Dengkuran Tidak Selalu Berarti Bahagia

Suara dengkuran kucing umumnya diasosiasikan dengan rasa nyaman dan bahagia. Namun, dengkuran juga bisa berfungsi sebagai mekanisme menenangkan diri ketika kucing sedang stres, sakit, atau terluka. Oleh karena itu, penting bagi pemilik untuk tidak hanya terpaku pada suara dengkuran, tetapi juga memperhatikan bahasa tubuh kucing lainnya, seperti posisi telinga atau ekor, untuk memahami situasi yang sebenarnya.

4. Memperlihatkan Perut adalah Tanda Percaya

Saat kucing memperlihatkan bagian perutnya, banyak pemilik menganggapnya sebagai undangan untuk mengelus. Namun, perilaku ini sebenarnya lebih merupakan manifestasi dari rasa kepercayaan yang mendalam. Penting untuk diingat bahwa tidak semua kucing merasa nyaman jika perutnya dielus, sehingga menghargai batasan mereka adalah kunci.

5. Gigitan dan Cakaran adalah Bentuk Komunikasi

Gigitan atau cakaran sering kali diartikan sebagai tindakan agresif. Padahal, terutama pada kucing muda, perilaku ini sering kali merupakan bagian dari permainan. Selain itu, gigitan juga bisa menjadi sinyal terakhir ketika kucing merasa tidak nyaman. “Gigitan bukanlah serangan, itu adalah upaya terakhir untuk berkomunikasi,” ujar sumber informasi.

6. Menjatuhkan Barang Demi Perhatian

Kucing yang kerap menjatuhkan barang dari meja sering kali dicap sebagai hewan yang nakal. Namun, perilaku ini biasanya dilakukan untuk mencari perhatian dari pemiliknya. Bahkan, perhatian negatif yang mereka dapatkan dianggap lebih baik daripada tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Selain itu, kucing juga menyukai tempat tinggi, sehingga menyediakan rak atau pohon kucing dapat menjadi solusi untuk mengurangi kebiasaan ini.

7. Perkelahian Belum Tentu Permusuhan

Dua kucing yang tampak berkelahi belum tentu memiliki hubungan yang buruk. Banyak kasus yang terjadi sebenarnya hanyalah bentuk permainan kasar antar kucing. Jika tidak disertai dengan desisan atau tanda agresi serius, kemungkinan besar itu hanyalah interaksi bermain. Konflik nyata biasanya dipicu oleh perebutan sumber daya seperti makanan atau wilayah.

8. Mencakar Furnitur Bukan Karena Bandel

Kucing yang mencakar furnitur sering dianggap keras kepala atau bandel. Padahal, hal ini bisa jadi disebabkan oleh tiang cakaran yang kurang kokoh atau tidak sesuai dengan preferensi kucing. Furnitur yang stabil memberikan sensasi yang lebih memuaskan saat dicakar. Beberapa kucing juga lebih menyukai permukaan horizontal, terutama jika mereka sudah tua atau memiliki masalah sendi. Apapun perilaku yang ditunjukkan, kucing tidak bermaksud membuat pemiliknya kesal. Mereka hanya berusaha berkomunikasi, menenangkan diri, atau bermain dengan cara yang mereka pahami.