— Tidak semua hubungan percintaan dibangun di atas landasan cinta yang tulus. Dalam beberapa situasi, seseorang mungkin terlibat dalam sebuah hubungan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan akan rasa diinginkan, dihargai, atau diakui oleh orang lain. Perbedaan antara mencari cinta sejati dan sekadar validasi memang terbilang tipis, namun dampaknya dapat menentukan kualitas hubungan yang dijalani. Jika tidak disadari, pola ini berpotensi menjebak seseorang dalam siklus hubungan yang berulang dan tidak sehat.

Berikut adalah tujuh indikasi bahwa seseorang mungkin hanya mencari validasi dalam sebuah hubungan, bukan cinta yang sesungguhnya, sebagaimana dilansir dari SELF Magazine pada Jumat (24/4/2026).

Tujuh Tanda Anda Mungkin Hanya Mencari Validasi dalam Hubungan

Salah satu indikator utama adalah jika fokus utama lebih tertuju pada status hubungan daripada pada individu pasangan. Jika bayangan memiliki seorang kekasih lebih sering muncul daripada upaya sungguh-sungguh untuk mengenal pribadi pasangan, hal ini bisa menjadi sinyal kuat.

“Anda seharusnya melihat mereka sebagai pribadi yang utuh, bukan versi datar atau fantasi,” jelas terapis hubungan Moe Ari Brown. Apabila ketertarikan lebih condong pada label ‘memiliki pasangan’ ketimbang membangun koneksi yang otentik, sangat mungkin yang dicari adalah validasi emosional.

Tanda kedua adalah ketika hubungan terasa kuat saat bersama, namun menjadi hambar ketika terpisah jarak. Koneksi yang hanya terasa intens saat bertemu langsung, namun memudar saat berjauhan, mengindikasikan kurangnya kedekatan emosional yang mendalam.

Psikolog klinis Sabrina Romanoff menyebut fenomena ini sebagai chemistry performatif. “Ini adalah koneksi yang terasa kuat di momen tertentu, tetapi tidak didukung oleh keterlibatan emosional yang nyata,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan yang dirasakan lebih bersifat sementara dan superfisial.

Selanjutnya, terlalu cepat membuka diri demi menciptakan kedekatan bisa jadi bukan cerminan kedewasaan emosional, melainkan strategi untuk memperoleh validasi instan. “Membuka diri terlalu cepat dapat menciptakan ilusi koneksi tanpa fondasi yang kuat,” ungkap Romanoff. Kedekatan yang sehat, menurutnya, seharusnya dibangun secara bertahap, bukan dipaksakan dari awal.

Pola lain yang patut diwaspadai adalah rajin berkomunikasi namun menghindari komitmen nyata. Seseorang mungkin aktif mengirim pesan, bercanda, atau bahkan melakukan flirting, namun selalu menghindar ketika diajak membuat rencana konkret seperti bertemu atau melangkah ke tahap yang lebih serius.

“Mereka cenderung menjaga ketertarikan orang lain tanpa benar-benar menindaklanjutinya,” ucap Romanoff. Perilaku semacam ini sering kali bertujuan untuk mempertahankan perhatian, bukan untuk membangun hubungan yang langgeng.

Tanda kelima adalah bersikap tidak konsisten dalam menunjukkan ketertarikan. Jika kehadiran hanya terasa saat membutuhkan perhatian, misalnya ketika merasa bosan atau kesepian, lalu menghilang ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, ini bisa menjadi indikasi kuat.

Romanoff menjelaskan bahwa keterlibatan semacam ini sering kali didorong oleh kebutuhan internal, bukan minat yang konsisten terhadap orang lain. Hubungan yang sehat menuntut konsistensi, bukan sekadar dorongan emosional sesaat.

Perilaku memperlakukan banyak orang dengan cara yang sama juga bisa menjadi sinyal. Jika interaksi dengan berbagai individu menggunakan pola yang serupa, mulai dari topik obrolan, gaya komunikasi, hingga tingkat ketertarikan, hal ini dapat menunjukkan bahwa yang dicari adalah perhatian yang luas.

“Perilaku ini mencerminkan kebutuhan akan validasi yang luas, bukan investasi emosional yang fokus,” kata Psikoterapis Danielle Madonna. Alih-alih mendalami hubungan dengan satu orang, fokusnya mungkin hanya untuk merasa diinginkan oleh banyak orang.

Tanda terakhir, dan mungkin yang paling jelas, adalah lebih menikmati proses mengejar daripada hubungan itu sendiri. Jika ketertarikan muncul saat seseorang sulit didapat, namun memudar ketika mereka mulai menunjukkan minat yang sama, ini adalah indikator krusial.

“Ketika antusiasme menurun setelah seseorang menunjukkan minat nyata, itu bisa menandakan bahwa dorongan utamanya adalah validasi, bukan keintiman,” tandas Madonna. Dengan kata lain, yang dikejar bukanlah orangnya, melainkan perasaan diinginkan yang menyertainya.

Pentingnya Menyadari Pola Ini Sejak Dini

Menyadari bahwa seseorang cenderung mencari validasi bukanlah berarti ada sesuatu yang salah secara inheren. Menurut Brown, keinginan untuk merasa dihargai adalah bagian dari sifat manusia.

“Keinginan untuk merasa diakui dalam hubungan adalah hal yang wajar,” ujarnya. Namun, yang terpenting adalah mulai mampu membedakan antara kebutuhan untuk dicintai dan kemampuan untuk benar-benar mencintai. Dengan kesadaran ini, seseorang dapat berupaya membangun hubungan yang lebih sehat, jujur, dan bermakna.