Homey

6 Hal di Kamar Tidur yang Diam-Diam Bikin Tidur Tak Nyenyak

Advertisement

Kualitas tidur yang optimal tidak hanya bergantung pada kenyamanan fisik seperti kasur empuk dan seprai bersih, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh suasana kamar tidur. Lingkungan yang tenang dan nyaman menjadi kunci untuk istirahat yang berkualitas. Namun, beberapa elemen di kamar tidur justru secara diam-diam dapat mengganggu kenyamanan dan memicu tidur yang tidak nyenyak. Mulai dari jenis pencahayaan hingga penataan barang, semuanya memiliki peran penting.

Berdasarkan informasi dari laman The Spruce, Kamis (23/4/2026), terdapat enam hal di kamar tidur yang berpotensi menjadi “pengganggu tersembunyi” bagi kualitas istirahat.

1. Lampu Penerangan yang Terlalu Terang di Tengah Ruangan

Meskipun lampu terang fungsional untuk aktivitas dan hemat energi, penerangan yang terlalu kuat di tengah kamar tidur justru dapat menyilaukan dan menghalangi relaksasi saat bersiap tidur. Caryn Paradis, desainer utama dan pendiri Studio Paradis, menyarankan penggunaan lampu dengan cahaya yang lebih lembut. Ia merekomendasikan lampu dinding di samping tempat tidur, idealnya yang dapat diredupkan dan diarahkan ke bawah agar tidak langsung mengenai mata.

“Untuk kamar tidur, sebaiknya gunakan suhu lampu sekitar 2700K yang menghasilkan cahaya hangat. Semakin rendah angka derajatnya, semakin hangat cahayanya,” ujar Paradis. Alternatif lain adalah menempatkan dua lampu kecil di sudut ruangan yang berlawanan untuk menciptakan pantulan cahaya yang lebih hangat dan tidak menyilaukan seluruh ruangan.

2. Kursi Serbaguna yang Menjadi Tempat Penumpukan Barang

Kursi yang ditempatkan di kamar tidur, meski awalnya dimaksudkan untuk fungsionalitas, sering kali berubah menjadi tempat penumpukan pakaian kotor atau barang lain. “Kursi ‘baca’ di pojok kamar tidur dapat menjadi tempat menumpuk pakaian kotor,” kata Paradis.

Untuk mengatasi masalah ini, Paradis menyarankan investasi pada solusi penyimpanan tertutup yang dapat menyembunyikan barang-barang berantakan. “Menciptakan lingkungan yang rapi dan tertata memungkinkan otak untuk beristirahat dengan tenang meskipun hanya untuk beberapa jam,” tambahnya.

3. Penyimpanan Terbuka yang Berantakan

Rak gantung atau rak buku yang terlihat berantakan dapat menambah beban kognitif saat seseorang bersiap untuk tidur. Kekacauan visual ini dapat mencegah sistem saraf beralih sepenuhnya ke mode istirahat.

Anita Yokota, terapis berlisensi yang beralih profesi menjadi desainer interior, menjelaskan, “Aktivasi mental tingkat rendah itu mencegah sistem saraf sepenuhnya beralih ke mode istirahat parasimpatik.” Yokota menyarankan untuk menyingkirkan barang-barang yang tidak seharusnya berada di kamar tidur dan memanfaatkan ruang penyimpanan tertutup.

Advertisement

4. Kurangnya Pencahayaan Alami

Kamar tidur yang minim pencahayaan alami dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur-bangun. Akibatnya, jam tidur bisa berantakan dan kualitas istirahat menurun.

Yokota menekankan pentingnya cahaya alami sejak pagi. “Kualitas tidur sebenarnya dimulai sejak pagi hari. Jika kamar tidak mendapat cukup cahaya alami, ritme sirkadian tidak akan berjalan optimal. Paparan cahaya siang membantu mengatur produksi kortisol dan melatonin. Tanpa itu, tubuh kesulitan mengenali waktu, sehingga tidur bisa tertunda dan terasa kurang nyenyak,” jelasnya. Membuka tirai di pagi hari dan menghindari menutupi jendela dengan furnitur besar dapat membantu menjaga ritme tidur.

5. Penggunaan Warna-warna yang Memberi Energi

Pemilihan warna di kamar tidur tidak hanya soal estetika, tetapi juga memengaruhi suasana hati dan kemampuan tubuh untuk rileks. Palet warna yang terlalu kontras atau energik justru dapat memicu rasa “aktif” dan mempersulit tubuh untuk bersantai.

Menurut Paradis, untuk menciptakan suasana tenang, sebaiknya gunakan lapisan warna senada pada dinding, tempat tidur, hingga furnitur. “Perpaduan warna senada ini dapat menciptakan harmoni, bukan rangsangan,” katanya.

6. Seprai yang Terlalu Tebal

Perlengkapan tempat tidur juga memainkan peran krusial dalam kualitas tidur. Seprai yang terlalu tebal dapat memerangkap panas berlebih, membuat tubuh sulit merasa nyaman dan mengganggu siklus tidur nyenyak.

Yokota mengingatkan, “Perubahan suhu dan kebisingan lingkungan dapat mengganggu siklus tidur nyenyak. Karena itu, sebaiknya gunakan bahan tempat tidur yang berlapis dan berpori, seperti linen, katun, atau wol, agar tidak mudah kepanasan.”

Advertisement