Regional

6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

Advertisement

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-479, Kota Semarang patut berbangga. Sebanyak enam karya budaya asli daerah ini berhasil meraih predikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional. Apresiasi tersebut diterima langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, yang hadir mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng.

Penghargaan ini diserahkan dalam acara Revitalisasi Ekosistem Kebudayaan Kabupaten dan Kota Jawa Tengah yang diselenggarakan di The Wujil Resort, Kabupaten Semarang, pada Selasa (21/4/2026). Wali Kota Agustina Wilujeng menyatakan bahwa penetapan enam karya budaya tersebut sebagai WBTB nasional merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas masyarakat Kota Semarang.

“Ini sekaligus menjadi kado menjelang peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang yang jatuh pada 2 Mei,” ujar Agustina dalam keterangan tertulisnya.

Keenam karya budaya yang kini menyandang predikat WBTB nasional meliputi ragam kuliner legendaris dan ekspresi seni budaya yang menjadi ciri khas kemajemukan Kota Semarang. Kategori kuliner yang diakui adalah wingko babat, ganjel rel, bubur khoja, dan lam kowan. Sementara itu, ekspresi seni yang mendapatkan pengakuan adalah seni barongsai dan kaligrafi China.

Akulturasi Budaya yang Kuat

Keberagaman karya budaya yang diakui ini mencerminkan kuatnya akulturasi budaya yang telah berakar di Kota Semarang selama berabad-abad. Agustina mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini.

“Kami sangat bangga karena tahun ini Kota Semarang mendominasi dengan enam karya yang diakui sekaligus, mulai dari kudapan, seperti wingko babat dan ganjel rel, hingga seni barongsai dan kaligrafi China. Semuanya membuktikan bahwa ekosistem kebudayaan kami sangat inklusif,” tutur Agustina.

Advertisement

Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi pemacu semangat Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk terus menggali potensi budaya lain yang mungkin masih tersembunyi. Agustina menambahkan bahwa proses kurasi dan pengajuan karya-karya tersebut telah melalui tahapan riset dan verifikasi yang panjang agar layak mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.

Dampak Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Agustina menekankan bahwa pencapaian ini adalah buah dari konsistensi seluruh elemen masyarakat dalam merawat akar budaya di tengah modernitas. Oleh karena itu, ia berharap penetapan WBTB ini dapat memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Warisan budaya diharapkan tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Dengan predikat WBTB, kuliner seperti bubur khoja dan lam kowan kini memiliki posisi tawar yang lebih tinggi sebagai daya tarik wisata kuliner.

“Kami ingin masyarakat dunia melihat Semarang sebagai kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga sangat kaya akan keragaman etnis dan tradisi yang terpelihara dengan sangat baik,” tandasnya.

Advertisement