— PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memperketat sistem keselamatan dan operasionalnya menyusul lonjakan jumlah perjalanan yang kini melampaui angka 500 juta per tahun. Langkah strategis ini diambil demi mempertahankan kepercayaan publik di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat dan ekspansi jaringan perkeretaapian nasional.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menyatakan bahwa skala operasional yang terus berkembang menuntut sistem yang lebih presisi, terintegrasi, dan responsif terhadap potensi risiko. “Ketika lebih dari 500 juta perjalanan terjadi dalam satu tahun, sistem harus bekerja dengan presisi. Setiap proses perlu terukur, terintegrasi, dan mampu merespons risiko dengan cepat,” ujar I Gede dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Data KAI Group menunjukkan peningkatan signifikan dalam pelayanan pelanggan. Pada triwulan I-2026, tercatat 128.055.072 pelanggan dilayani. Peningkatan ini sejalan dengan tren tahunan, di mana jumlah penumpang melonjak dari 154,5 juta pada 2021 menjadi 503,6 juta pada akhir 2025, menandakan intensitas operasional yang kian tinggi di seluruh jaringan KAI.

Penguatan Sistem Berbasis Data dan Kepercayaan Publik

I Gede menekankan bahwa kepercayaan publik tidak hanya dibangun dari layanan yang terlihat, tetapi juga dari konsistensi sistem yang bekerja di balik setiap perjalanan kereta api. “Kepercayaan publik lahir dari sistem yang berjalan disiplin dan dapat dipantau kinerjanya. Karena itu, penguatan dilakukan dari sisi pemeliharaan sarana, prasarana, hingga pengelolaan operasi berbasis data,” tegasnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, KAI menggandeng TÜV Rheinland, sebuah lembaga independen global di bidang testing, inspection, and certification (TIC), untuk melakukan asesmen teknis menyeluruh. Kegiatan ini dikemas dalam Workshop Executive Session: Technical Audit & Comprehensive RAMS Assessment Project for Rolling Stock, Infrastructure, Operations and Safety – RAMS Knowledge Sharing KAI, yang diselenggarakan di Ballroom Jakarta Railway Center pada Kamis (23/4/2026).

Dalam asesmen ini, pendekatan Reliability, Availability, Maintainability, Safety (RAMS) diterapkan. Pendekatan ini menggabungkan analisis data historis dengan pemeriksaan fisik aset di lapangan, mencakup infrastruktur vital seperti jalur rel hingga jembatan.

Pendekatan RAMS untuk Identifikasi Risiko Dini

Project Manager TÜV Rheinland, Brian Wong, menjelaskan bahwa pendekatan RAMS memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi potensi risiko sejak dini. “Pendekatan RAMS membantu mengidentifikasi potensi risiko sejak awal dan memberikan rekomendasi yang dapat segera diterapkan untuk menjaga keandalan sistem,” ujarnya.

Saat ini, KAI mengelola armada yang sangat besar, meliputi hampir 11.000 sarana, di mana sekitar 35 persen di antaranya dijadwalkan memasuki fase peremajaan dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, KAI juga mengoperasikan jaringan rel sepanjang 8.178 kilometer. Skala operasional yang masif ini memerlukan evaluasi berkelanjutan untuk memastikan seluruh proses tetap terkendali.

Aspek keselamatan di perlintasan sebidang juga menjadi sorotan utama dalam evaluasi ini. Upaya ini diarahkan untuk menjaga tren penurunan gangguan operasional serta memastikan setiap perjalanan kereta api berlangsung aman dan nyaman bagi seluruh penumpang.

Profil TÜV Rheinland

TÜV Rheinland merupakan perusahaan global yang didirikan sejak tahun 1872 dengan kantor pusat di Cologne, Jerman. Perusahaan ini memiliki jangkauan operasional di lebih dari 50 negara dan mempekerjakan puluhan ribu tenaga ahli di berbagai sektor, termasuk energi, manufaktur, transportasi, dan teknologi.

I Gede kembali menegaskan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan mobilitas dan penguatan sistem. “Pertumbuhan mobilitas perlu diikuti dengan sistem yang semakin kuat. KAI memastikan setiap perjalanan berjalan dalam kendali yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.