— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat lima kelurahan di ibu kota sebagai wilayah dengan frekuensi kebakaran tertinggi selama periode 2021 hingga 2025. Data tersebut menunjukkan dominasi wilayah Jakarta Barat, dengan tiga kelurahan masuk dalam daftar teratas, disusul Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Lima kelurahan yang paling sering dilaporkan mengalami kebakaran adalah Kapuk (Jakarta Barat), Cengkareng Timur (Jakarta Barat), Penjaringan (Jakarta Utara), Pegadungan (Jakarta Barat), dan Pulo Gebang (Jakarta Timur). Informasi ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Yohan, dalam keterangan resminya pada Jumat, 24 April 2026.

Rincian Wilayah Rawan Kebakaran

Selain mengidentifikasi kelurahan, BPBD juga merinci sejumlah rukun tetangga (RT) yang tercatat paling sering menjadi lokasi kejadian kebakaran. Di antaranya adalah RT 06 dan RT 07 RW 014 Kelurahan Cengkareng Timur, RT 01 RW 009 Kelurahan Jatinegara, RT 20 RW 17 Kelurahan Penjaringan, serta RT 02 RW 01 Kelurahan Gelora.

Analisis BPBD mengidentifikasi sejumlah faktor yang secara konsisten memengaruhi tingginya angka kebakaran di wilayah-wilayah tersebut. Pola umum yang terdeteksi mencakup masalah kelistrikan sebagai pemicu utama.

Faktor-faktor Penyebab Kebakaran

Berdasarkan analisis BPBD DKI Jakarta, beberapa faktor utama berkontribusi terhadap tingginya kasus kebakaran di kelurahan-kelurahan tersebut:

  1. Masalah Kelistrikan

    Secara statistik, sekitar 70 hingga 80 persen kebakaran di Jakarta dipicu oleh korsleting listrik. Fenomena ini kerap terjadi akibat penggunaan listrik yang melebihi kapasitas serta instalasi yang tidak sesuai standar, terutama di kawasan permukiman padat.

  2. Kepadatan Bangunan dan Material Mudah Terbakar

    Kepadatan bangunan menjadi faktor lain yang memperparah risiko kebakaran. Di beberapa wilayah seperti Kapuk, Cengkareng Timur, dan Penjaringan, banyak rumah berdiri berhimpitan tanpa jarak yang memadai antar bangunan. Selain itu, masih banyak bangunan semi permanen yang menggunakan material mudah terbakar seperti kayu dan triplek, sehingga api dapat merambat dengan cepat sebelum petugas pemadam tiba di lokasi.

  3. Aktivitas Industri Rumah Tangga dan Pergudangan

    Wilayah Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Pulo Gebang merupakan zona campuran antara hunian, industri kecil seperti konveksi dan bengkel, serta gudang. Penyimpanan stok bahan kimia, kain, atau plastik dalam jumlah besar tanpa sistem proteksi kebakaran yang memadai turut meningkatkan risiko terjadinya kebakaran skala besar. Kelalaian operasional, seperti aktivitas pengelasan atau penggunaan kompor industri yang kurang diawasi, juga menjadi perhatian.

  4. Tantangan Geografis dan Infrastruktur

    Akses jalan yang sempit di kawasan padat penduduk menjadi kendala utama bagi mobil pemadam kebakaran. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan dalam penanganan, sehingga api lebih sulit dikendalikan sejak awal. Keterbatasan sumber air, seperti hidran yang tertutup bangunan, juga memperburuk situasi saat proses pemadaman berlangsung.

  5. Faktor Manusia (Human Error)

    Kelalaian dalam penggunaan kompor, seperti meninggalkan kompor menyala saat memasak, masih menjadi penyebab signifikan kedua setelah masalah kelistrikan. Di area seperti Pegadungan dan Pulo Gebang, yang masih memiliki lahan terbuka atau tumpukan material sisa, aktivitas membakar sampah yang tidak diawasi sering kali menjadi pemicu api yang merembet ke bangunan sekitar.

Menanggapi kondisi tersebut, Yohan menambahkan, “Pihak BPBD dan Dinas Gulkarmat biasanya memprioritaskan wilayah-wilayah ini untuk program Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) dan pemasangan Lampu Otomatis Pemutus Arus (LOVA) guna menekan angka kebakaran akibat korsleting listrik.”