Akses.co.id — Menjaga kesehatan gigi dan mulut seringkali hanya berfokus pada rutinitas menyikat gigi dua kali sehari. Namun, berbagai kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele ternyata dapat menimbulkan kerusakan permanen pada gigi tanpa disadari. Tindakan yang tampak tidak berbahaya ini bisa memicu masalah struktural serius, mulai dari penipisan enamel hingga risiko infeksi gusi kronis.
Kebiasaan yang Mengikis Kesehatan Gigi
Beberapa rutinitas yang sering dilakukan tanpa disadari dapat berdampak buruk pada kesehatan gigi.
1. Mengunyah Benda Keras
Kebiasaan seperti menggigit tutup pulpen atau mengunyah es batu, meskipun terlihat tidak berbahaya, dapat merusak gigi seiring waktu. drg. Nicole Khalife menjelaskan bahwa tindakan tersebut dapat mengikis email gigi dan menciptakan retakan kecil yang kian memburuk.
“Kebiasaan tersebut mengikis email gigi dan dapat menciptakan retakan kecil yang memburuk seiring berjalannya waktu,” kata drg. Nicole Khalife.
Bagi mereka yang sering mengunyah saat stres atau terdistraksi, Khalife menyarankan untuk mengganti kebiasaan tersebut dengan permen karet bebas gula yang bertekstur lebih lembut untuk mengalihkan keinginan mengunyah.
2. Menggunakan Gigi sebagai Alat
Memanfaatkan gigi untuk membuka kemasan plastik atau memutar tutup botol adalah kebiasaan buruk yang perlu diubah. Gigi manusia tidak dirancang untuk menahan tekanan ekstrem dari sudut yang tidak wajar.
“Barang tergelincir secara tidak sengaja saat (dibuka atau diputar) memakai gigi sebagai alat dapat mengakibatkan laserasi atau iritasi pada gusi,” ungkap drg. Jie Sun.
Selain risiko cedera pada gusi, benda-benda yang dipaksa masuk ke mulut ini juga berpotensi membawa kuman penyakit. Kerusakan struktural yang timbul seringkali memerlukan perbaikan yang ekstensif. drg. Sun menegaskan, “Intinya, gigi adalah untuk makan, bukan untuk difungsikan sebagai alat.”
3. Kesalahan dalam Rutinitas Pembersihan
Menyikat gigi segera setelah sarapan sering dianggap sebagai langkah higienis, namun justru dapat merusak gigi. Proses makan menurunkan tingkat pH di dalam mulut, membuat lapisan enamel menjadi lebih lunak.
Dokter gigi menyarankan untuk menunggu setidaknya 30 menit setelah makan agar air liur dapat mengembalikan keseimbangan pH alami. drg. Sun memperingatkan, “Saat kamu menyikat gigi segera setelah makan, abrasi mekanis dari menyikat gigi dapat mempercepat keausan enamel.”
Selain pengaturan waktu yang keliru, tekanan berlebihan saat menyikat gigi juga dapat mengekspos dentin yang lebih lunak di bawahnya. drg. Sandip Sachar menjelaskan dampak negatifnya:
“Ketika enamel terkikis, hal itu dapat menyebabkan retak, terkelupas, dan patah, bersamaan dengan peningkatan sensitivitas dan kerusakan gigi yang lebih cepat.”
Untuk itu, Sachar menyarankan penggunaan sikat gigi berbulu lembut dan perbaikan teknik menyikat. “Saya sarankan menyikat gigi dengan gerakan melingkar yang lembut, dibandingkan dengan gerakan maju mundur seperti menggergaji,” tambahnya.
4. Penggunaan Produk Pemutih, Kebiasaan Ngemil, dan Bernapas Lewat Mulut
Penggunaan produk pemutih gigi instan tanpa pengawasan profesional dapat berujung pada kerusakan lapisan gigi. drg. Khalife menyatakan, “Pemutihan berlebihan, terutama dengan gel atau setrip yang dibeli di toko, dapat menyebabkan penipisan enamel, sensitivitas, dan gusi yang teriritasi.”
Frekuensi ngemil yang tinggi tanpa diimbangi pembersihan yang memadai juga berbahaya. drg. Khalife menjelaskan, “Setiap camilan, terutama yang tinggi gula atau karbohidrat, memberi makan bakteri di mulut. Mereka menciptakan asam yang menyerang enamel.”
Kondisi ini diperparah jika seseorang terbiasa bernapas melalui mulut, yang mengurangi produksi air liur sebagai penetral asam. drg. Sun menambahkan bahwa kebiasaan bernapas melalui mulut juga dapat memengaruhi perkembangan wajah pada anak-anak dan menyebabkan masalah ortodontik.
5. Menggemeretakkan Gigi Tanpa Sadar (Bruxism)
Gesekan kuat antargigi saat tidur dapat meratakan permukaan gigitan dan memicu nyeri sendi rahang. Penggunaan pelindung mulut saat tidur menjadi salah satu solusi pencegahannya.
drg. Sachar mengingatkan bahwa enamel gigi tidak dapat beregenerasi. “Sayangnya, enamel tidak beregenerasi. Setelah gigi terkikis, mereka tidak menyembuhkan dirinya sendiri,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
