Akses.co.id — Batik, yang kerap diasosiasikan dengan formalitas berlebih atau kesan “ramai”, ternyata dapat diadaptasi untuk busana kantor sehari-hari. Seniman batik asal Jakarta, Dave Tjoa, membagikan kiat memadupadankan batik agar tetap tampil profesional tanpa terkesan berlebihan.
Lima Kiat Padu Padan Batik untuk Tampilan Kantor
Dave Tjoa menekankan bahwa persepsi batik sebagai busana yang kaku bisa diubah melalui penataan yang tepat. Ia menyarankan beberapa strategi agar batik dapat menjadi pilihan menarik untuk dikenakan di lingkungan kerja.
1. Pilih Warna Klasik yang Aman
Bagi pemula yang ingin mencoba batik, Dave menyarankan untuk memulai dengan warna-warna klasik yang cenderung netral. Palet warna seperti cokelat tua, biru tua, hitam, dan putih dianggap sebagai pilihan aman.
“Meski bermotif, warna-warna ini tidak terlalu mencolok sehingga lebih mudah dipadukan dengan berbagai macam item fesyen. Tips ini cocok jika ingin tampil rapi ke kantor tanpa menarik perhatian berlebihan,” jelas Dave saat ditemui di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (23/4).
2. Padukan Motif Batik dengan Item Polos
Prinsip dasar dalam memadupadankan batik, menurut Dave, adalah keseimbangan. Jika satu elemen busana sudah bermotif, maka elemen lainnya sebaiknya polos.
“Kalau atasnya sudah ramai, jangan bawahnya juga ramai. Dipilih, mau atasnya hitam, bawahnya kain, atau sebaliknya,” ujarnya.
Untuk perempuan, rok batik dapat dipadukan dengan blus polos berwarna netral. Sementara itu, pria dapat mengombinasikan kemeja batik dengan celana hitam atau navy untuk menjaga kesan profesional.
3. Coba Motif Batik Kontemporer
Bagi yang masih ragu, batik kontemporer bisa menjadi alternatif. Motif jenis ini cenderung lebih minimalis, misalnya hanya tersemat di satu sisi kain atau dalam bentuk detail kecil. Penggunaan warna soft tone seperti cokelat muda atau hijau pastel juga memberikan kesan yang lebih ringan.
Hasilnya, tampilan tetap memiliki karakter tanpa terasa “berat” atau berlebihan.
4. Solusi Batik Custom-made
Jika kesulitan menemukan model batik yang sesuai di pasaran, Dave menyarankan opsi pembuatan batik secara khusus. Pembuatan kemeja atau blus dengan model sederhana dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhan pribadi.
“Kalau repot, market-nya enggak ada yang cocok, bikin. Tinggal jiplak model, kasih penjahit,” tuturnya.
Pendekatan ini memberikan keleluasaan dalam menyesuaikan potongan busana dengan gaya personal, sekaligus membuat batik terasa lebih relevan untuk aktivitas harian.
5. Keberanian adalah Kunci
Pada akhirnya, Dave menegaskan bahwa mengenakan batik membutuhkan keberanian. Banyak orang merasa ragu karena takut tampil berbeda atau dianggap berlebihan.
“Dibutuhkan keberanian untuk pakai,” katanya.
Dengan menerapkan kiat padu padan ala Dave Tjoa, batik dapat menjadi bagian dari identitas sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja.
Ikuti Akses.co.id
