Tren

5 Fakta Demonstrasi di Kaltim, Berakhir Ricuh hingga Gubernur Abaikan Massa Aksi

Advertisement

Aksi demonstrasi yang digelar ratusan warga dan mahasiswa di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, pada Selasa (21/4/2026) berakhir ricuh. Massa yang menyoroti kebijakan dan gaya hidup mewah Gubernur Kaltim ini membakar kardus dan melakukan pelemparan ke arah aparat kepolisian setelah tuntutan mereka tak direspons.

Demonstrasi yang awalnya berlangsung tertib sejak pagi itu, menyasar Gedung DPRD Kaltim sebelum berlanjut ke Kantor Gubernur. Situasi memanas menjelang petang ketika gubernur maupun wakil gubernur tidak menemui para pengunjuk rasa yang bertahan selama kurang lebih enam jam.

Ratusan Massa Tuntut Evaluasi Kebijakan Hingga Hentikan KKN

Massa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Kaltim ini menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak evaluasi seluruh kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Kedua, menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Ketiga, meminta DPRD menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal.

Dalam aksinya, perhatian massa tertuju pada anggaran rumah jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim yang mencapai Rp 25 miliar. Mereka juga menyoroti pengadaan fasilitas seperti akuarium laut dan alat fitnes di rumah jabatan, serta polemik pembelian mobil dinas mewah jenis Range Rover senilai Rp 8,5 miliar.

Ketegangan mulai meningkat sekitar pukul 18.00 Wita ketika aparat kepolisian meminta massa mundur dari area kantor gubernur. Sejumlah peserta aksi kemudian melempar botol dan air minum ke arah aparat, yang memicu kericuhan. Massa bahkan membakar kardus di sekitar lokasi dan kembali melakukan pelemparan ke arah petugas.

Aparat Amankan Sejumlah Demonstran, Kapolda Sebut Aksi Terkendali

Bentrok antara massa dan aparat berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 Wita sebelum situasi berhasil dikendalikan dan para pengunjuk rasa dibubarkan. Kapolda Kalimantan Timur, Endar Priantoro, menyatakan bahwa secara umum aksi tersebut masih dalam batas wajar dan dapat dikontrol.

“Terima kasih seluruh lapisan masyarakat, mahasiswa, dan peserta unjuk rasa. Hari ini pelaksanaan unjuk rasa bisa berjalan dengan damai, tertib, dan aspirasi juga sudah disampaikan,” ujar Endar Priantoro.

Ia menambahkan bahwa aspirasi massa telah diterima pimpinan DPRD Kaltim, sementara aksi di Kantor Gubernur juga telah dipantau oleh pemerintah daerah. Endar menegaskan aparat telah bertindak sesuai prosedur standar operasional dalam menangani situasi di lapangan.

Advertisement

“Secara umum pelaksanaan unjuk rasa berjalan dengan baik. Apa yang kita lakukan sudah sesuai standar operasi, dan semuanya bisa terkendali, aman. Tidak ada yang luka, tidak ada yang sakit,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui ada sejumlah peserta aksi yang diamankan dan masih menjalani pemeriksaan. “Ada beberapa yang diamankan, tapi masih dalam tahap pemeriksaan. Pendekatan hukum represif akan kita lihat, tergantung tingkat kesalahannya. Jika tidak fatal, bisa menjadi pembinaan,” ujarnya.

Gubernur Kaltim Tak Temui Massa, Langsung Masuk Rumah Dinas

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menjadi sorotan setelah tidak menemui massa aksi dan memilih tidak memberikan pernyataan saat meninggalkan Kantor Gubernur Kaltim pada Selasa (21/4/2026) malam. Sikap tersebut diambil usai demonstrasi yang berlangsung sejak siang berujung ricuh.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Rudy keluar dari kantor sekitar pukul 21.10 WITA, atau sekitar satu jam setelah massa dipukul mundur oleh aparat. Dengan pengawalan ketat, ia berjalan cepat menuju rumah jabatan yang berjarak sekitar 100 meter tanpa memberikan keterangan kepada awak media.

Sejumlah wartawan yang mencoba meminta tanggapan terkait tuntutan massa maupun kericuhan tidak mendapatkan respons. Rudy langsung masuk ke kediaman dinasnya tanpa memberikan komentar.

Endar mengonfirmasi bahwa gubernur dan wakil gubernur sebenarnya berada di dalam gedung saat aksi berlangsung. Namun, pemerintah provinsi memutuskan tidak menerima massa untuk audiensi langsung.

“Gubernur ada tadi di kantor, tapi memang tidak menerima mereka untuk audiensi,” ujar Endar di lokasi.

Advertisement