Lifestyle

5 Alasan People Pleaser Justru Merugikan Diri Sendiri, Rentan Dimanfaatkan

Advertisement

Keinginan untuk selalu disukai dan diterima orang lain adalah naluri dasar manusia. Namun, ketika dorongan ini berujung pada kebiasaan mengalah, selalu menyenangkan orang lain, dan kesulitan menolak, seseorang berisiko terjebak dalam pola people pleasing. Perilaku ini, yang dalam psikologi seringkali berakar pada ketakutan akan penolakan, konflik, atau kebutuhan validasi yang berlebihan, justru dapat membawa kerugian mendalam bagi diri sendiri, baik secara emosional maupun sosial.

Berikut adalah lima alasan mengapa kecenderungan people pleasing justru berdampak negatif, seperti diungkapkan oleh Psychology Today:

1. Kehilangan Jati Diri

Salah satu konsekuensi paling fundamental dari people pleasing adalah hilangnya keaslian diri. Individu yang terus-menerus menyesuaikan diri demi menyenangkan orang lain cenderung mengabaikan kebutuhan, nilai, dan perasaan pribadinya. Psikolog Emily Impett menjelaskan bahwa terlalu sering mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain akan berdampak pada kesejahteraan emosional.

“Ketika seseorang terlalu sering mengatakan ‘iya’ padahal sebenarnya ingin menolak, ia sedang menjauh dari dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat seseorang bingung terhadap apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup.”

2. Memicu Stres dan Kelelahan Emosional

Berusaha terus-menerus memenuhi ekspektasi orang lain bukanlah tugas yang ringan. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memicu stres kronis dan kelelahan emosional. Psychology Today mengutip bahwa perilaku menekan diri sendiri (self-silencing), yang umum dilakukan oleh people pleaser, berkaitan erat dengan peningkatan risiko depresi dan rendahnya kesejahteraan psikologis. Ketika kebutuhan pribadi senantiasa diabaikan, tubuh dan pikiran akan mengalami kelelahan emosional sebagai dampaknya.

Advertisement

3. Menimbulkan Rasa Kesal yang Terpendam

Di balik sikap yang terlihat “baik” di luar, para people pleaser kerap kali menyimpan emosi negatif di dalam diri. Mereka mungkin merasa dimanfaatkan atau tidak dihargai, namun kesulitan untuk mengungkapkannya. Akibatnya, rasa kesal atau bahkan dendam yang terpendam dapat muncul. Emosi ini berpotensi meledak sewaktu-waktu atau secara perlahan merusak hubungan akibat komunikasi yang tidak jujur.

4. Rentan Dimanfaatkan Orang Lain

Kesulitan untuk berkata “tidak” membuat individu people pleaser lebih mudah menjadi sasaran pemanfaatan, baik dalam lingkungan pertemanan maupun pekerjaan. Sebuah studi oleh Romero Canvas pada tahun 2013 berjudul “After All I Have Done For You” menunjukkan bahwa orang lain, baik secara sadar maupun tidak, dapat mengidentifikasi pola ini dan memberikan beban lebih, karena mereka tahu permintaan mereka jarang sekali ditolak. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menciptakan hubungan yang tidak seimbang.

5. Merusak Kualitas Hubungan

Meskipun tujuan utama people pleasing seringkali adalah menjaga keharmonisan hubungan, tanpa kejujuran dan batasan yang sehat, hubungan justru bisa menjadi tidak autentik. Hubungan yang sehat menuntut komunikasi yang terbuka dan keaslian. Ketika seseorang terus-menerus menyembunyikan perasaannya demi menghindari konflik, kedekatan emosional yang mendalam akan sulit terbangun.

Pentingnya Menetapkan Batasan

Mengurangi kebiasaan people pleasing bukanlah tentang menjadi egois. Sebaliknya, ini adalah tentang belajar mengenali kebutuhan diri sendiri dan menetapkan batasan yang sehat. Para psikolog menyarankan untuk memulai dari langkah-langkah sederhana, seperti berlatih mengucapkan “tidak” dengan sopan, bersikap jujur terhadap perasaan, serta memahami bahwa tidak semua orang harus selalu merasa puas dengan setiap keputusan yang kita ambil. Dengan demikian, seseorang tidak hanya menjaga hubungan dengan orang lain, tetapi yang terpenting, menjaga hubungan dengan dirinya sendiri.

Advertisement