Akses.co.id — Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi dikabarkan tengah menjajaki pembentukan sebuah aliansi pertahanan baru, yang dinilai memiliki potensi menyerupai struktur NATO. Langkah ini disebut sebagai respons terhadap eskalasi agresi militer Israel dan kekhawatiran terhadap ambisi ekspansionisnya di Timur Tengah.
Analisis dari The New Arab pada Kamis (23/4/2026) menyebutkan bahwa aliansi yang digagas oleh empat negara mayoritas Muslim ini dapat meniru model kerja sama pertahanan kolektif seperti yang dianut oleh aliansi negara-negara Eropa dan Amerika Utara.
Keseriusan di Balik Latihan Militer Gabungan
Indikasi keseriusan rencana aliansi ini terlihat dari pelaksanaan latihan militer gabungan antara pasukan khusus Mesir dan Pakistan yang tengah berlangsung. Meskipun latihan serupa pernah digelar sebelumnya, para analis menilai koordinasi kali ini memiliki intensitas yang jauh lebih tinggi, terutama pasca-insiden serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025.
Peristiwa tersebut dianggap sebagai titik balik yang menghancurkan kepercayaan negara-negara kawasan terhadap jaminan keamanan dari pihak luar, termasuk Amerika Serikat. “Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel,” ujar Islam Mansi, seorang analis politik independen asal Mesir.
Menurut Mansi, serangan terhadap Qatar memaksa negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk mengevaluasi ulang strategi keamanan mereka. Ketegangan di wilayah tersebut semakin memuncak sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, yang memicu konflik berskala global.
Konflik ini tidak hanya menimbulkan ancaman terhadap keamanan fisik, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi perekonomian kawasan. Negara-negara Teluk, khususnya, dilaporkan menderita kerugian besar akibat terganggunya rantai pasokan dan lonjakan harga minyak dunia.
Bobot Strategis dan Tantangan yang Dihadapi
Analis politik asal Arab Saudi, Omar Saif, berpendapat bahwa jika terealisasi, “NATO negara mayoritas muslim” akan memiliki bobot strategis yang signifikan dalam meredam ambisi Israel. “Aliansi ini dapat mengerem ambisi regional Israel,” tegasnya.
Secara kolektif, keempat negara yang terlibat memiliki kekuatan ekonomi dan demografi yang substansial. Gabungan populasi mereka mencapai 500 juta jiwa dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 3,87 triliun dollar AS.
Upaya penyelarasan strategis ini juga tercermin dalam pertemuan para menteri luar negeri yang digelar di Antalya Diplomacy Forum, Turkiye, pada 17 April lalu. Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, mengonfirmasi bahwa keempat negara tersebut sedang merancang pengaturan keamanan regional pasca-konflik.
Meski demikian, pembentukan blok pertahanan ini tidak lepas dari tantangan. Sejarah keretakan hubungan diplomatik antara Ankara, Riyadh, dan Kairo yang baru saja pulih dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu hambatan. Selain itu, ketergantungan militer Mesir dan Arab Saudi terhadap Amerika Serikat juga menjadi variabel penting yang perlu dipertimbangkan.
Di sisi lain, analis asal Turkiye, Firas Ridvan Oglu, menilai bahwa Washington kemungkinan akan bersikap toleran terhadap koalisi ini apabila mampu mencegah eskalasi konflik regional yang lebih besar.
Ikuti Akses.co.id
