— Sebanyak 31 ekor kungkang yang seharusnya menjadi bintang utama dalam wahana wisata “slothnarium” di Orlando, Florida, Amerika Serikat, ditemukan mati sebelum sempat diperkenalkan kepada publik. Kematian puluhan hewan yang dikenal lambat ini terungkap setelah Komisi Konservasi Ikan dan Satwa Liar Florida (FWC) melakukan investigasi mendalam di fasilitas Sloth World.

Menurut laporan FWC, tragedi ini terjadi dalam dua gelombang terpisah antara Desember 2024 hingga Februari 2025. Sebagian kungkang dilaporkan tiba dalam kondisi sudah mati, sementara sisanya sakit sebelum akhirnya menyusul rekan-rekannya.

Kematian Tragis Puluhan Kungkang di Fasilitas Pameran

Laporan Komisi Konservasi Ikan dan Satwa Liar Florida (FWC) yang dirilis pada Jumat (24/4/2026) mengindikasikan bahwa kondisi penyimpanan yang tidak memadai menjadi penyebab utama kematian banyak kungkang. Investigasi FWC mengungkap adanya dua kasus kematian mamalia ini yang terjadi menjelang pembukaan objek wisata yang sangat dinanti-nantikan.

Kasus pertama terjadi pada Desember 2024. Sebanyak 21 ekor kungkang yang baru saja didatangkan dari Guyana ditemukan mati akibat terpapar suhu dingin di sebuah gudang di Florida tempat mereka dititipkan. Kejadian kedua menyusul pada Februari 2025, di mana 2 dari 10 kungkang yang melakukan perjalanan dari Peru tiba dalam keadaan tak bernyawa.

Lebih memilukan lagi, delapan ekor kungkang lainnya yang selamat dari perjalanan menunjukkan kondisi fisik yang sangat kurus dan akhirnya mati akibat masalah kesehatan yang serius.

Gudang Tanpa Pemanas, Ancaman Kedinginan bagi Satwa Tropis

Wakil Presiden Sloth World, Peter Bandre, mengakui kepada para penyelidik FWC bahwa gudang tempat kungkang-kungkang tersebut disimpan tidak dipersiapkan dengan baik. “Sudah terlambat untuk membatalkan pengiriman tersebut,” ujar Bandre, seraya mengaitkan kematian hewan-hewan ini dengan serangan kedinginan yang tak terduga.

Bangunan gudang yang seharusnya menjadi tempat penampungan sementara para kungkang dilaporkan tidak memiliki pasokan air maupun listrik. Upaya untuk menjaga suhu tetap hangat dilakukan dengan membeli pemanas ruangan. Namun, malang tak dapat ditolak, pemanas tersebut mengalami korsleting dan akhirnya mati. Penyelidik FWC menemukan fakta bahwa para kungkang terpaksa berada di dalam bangunan tanpa pemanas setidaknya selama satu malam.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat kungkang adalah hewan yang berasal dari hutan hujan tropis dan terbiasa hidup di lingkungan dengan suhu stabil antara 21 hingga 30 derajat Celcius. Laporan mencatat bahwa kungkang-kungkang tersebut tiba di Florida pada 18 Desember 2024. Data cuaca historis menunjukkan suhu terendah mencapai 7 derajat Celcius pada minggu berikutnya, sebuah anomali suhu yang ekstrem bagi satwa tersebut.

Selain itu, FWC juga menemukan bahwa dalam dua kasus, kungkang yang berada di bawah perawatan Bandre ditempatkan dalam kandang yang tidak memenuhi standar persyaratan satwa liar yang dipelihara di penangkaran. Meskipun peringatan lisan telah diberikan pada saat itu, FWC menutup penyelidikan tanpa mengeluarkan peringatan tertulis. Pihak berwenang menyatakan bahwa pemilik Sloth World memiliki izin yang sah untuk memamerkan atau menjual satwa liar.

Media lokal melaporkan bahwa lebih dari selusin kungkang yang tersisa kini berada di bawah perawatan kebun binatang lain di Florida tengah.

Tanggapan Pejabat dan Aktivis Lingkungan

Manajer kampanye satwa liar World Animal Protection AS, Nicole Barrantes, mengecam keras praktik perdagangan satwa liar yang dianggapnya kejam dan tidak etis. “Kondisi menyiksa yang dialami oleh kukang-kukang ini adalah contoh tragis dari perdagangan satwa liar yang kejam dan tidak etis,” katanya, dilansir dari The Guardian, Jumat (24/4/2026).

Barrantes menambahkan, “Hewan-hewan yang hidup menyendiri dan tertutup ini secara brutal diambil dari habitat alami mereka, dibiarkan kelaparan dan kedinginan, dan akhirnya mati karena infeksi. Nafsu yang kejam untuk mengeksploitasi hewan liar hanya demi menghasilkan uang harus ditangani.”

Anggota Kongres dari Florida tengah, Maxwell Frost, menyatakan bahwa kantornya sedang menyelidiki tragedi ini. Ia bergabung dengan pejabat setempat dalam investigasi terhadap atraksi yang mematok harga tiket 49 dollar AS tersebut. “Saya sangat terkejut mendengar tentang 31 kukang yang mati di bawah ‘perawatan’ Sloth World yang belum dibuka di Orlando,” ujar Frost.

Frost menjelaskan bahwa kungkang secara alami adalah hewan penyendiri. Penempatannya di gudang yang penuh sesak tanpa penghangat dapat menyebabkan stres dan penyebaran virus mematikan.

Klarifikasi dari Pemilik Sloth World

Di sisi lain, pemilik Sloth World membantah tuduhan yang dilayangkan dalam laporan tersebut. Ben Agresta, pemilik Sloth World, mengklaim bahwa banyak informasi yang beredar tidak akurat. “Yang benar adalah, kami kehilangan beberapa kungkang yang terinfeksi virus yang gejalanya hampir tidak terlihat dan tidak terdeteksi bahkan setelah otopsi,” kata Agresta, dilansir dari BBC, Sabtu (25/4/2026).

Mereka juga menyatakan bahwa FWC telah melakukan inspeksi menyeluruh terhadap fasilitas mereka dan tidak menemukan adanya pelanggaran. “Tuduhan ini sepenuhnya salah. FWC melakukan inspeksi menyeluruh terhadap fasilitas kami minggu lalu, sama sekali tidak menemukan pelanggaran, dan sepenuhnya memperbarui lisensi kami,” tegas mereka.