Akses.co.id — BANYUWANGI, KOMPAS.com – Kabupaten Banyuwangi mencatat angka kasus Tuberkulosis (TBC) yang mengkhawatirkan, dengan 3.169 warga dinyatakan positif. Angka ini belum termasuk lebih dari 27.000 orang yang teridentifikasi sebagai suspek berdasarkan hasil skrining yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, mengonfirmasi bahwa 3.169 kasus positif TBC tersebut merupakan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap warga yang sebelumnya berstatus suspek. Ia menambahkan, mayoritas penderita TBC di Banyuwangi berasal dari kelompok usia produktif.
“Sebagian besar kasus TBC di Banyuwangi terjadi pada kelompok usia produktif,” ujar Amir Hidayat pada Kamis (23/4/2026).
Tingginya jumlah suspek, menurut Amir, mengindikasikan bahwa potensi penularan TBC di masyarakat masih sangat luas. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan terus berupaya memperkuat program penanggulangan, khususnya melalui pelacakan kontak erat dengan pasien positif.
“Petugas kami aktif turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kontak erat, baik anggota keluarga, tetangga, maupun teman yang pernah berinteraksi dengan pasien positif,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Kesehatan Banyuwangi juga menggandeng berbagai lembaga sosial untuk memperluas jangkauan skrining dan mempercepat penemuan kasus baru di masyarakat.
Pasien yang telah terdiagnosis positif TBC akan mendapatkan pengobatan gratis melalui program Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang berlangsung selama enam bulan. Amir menekankan pentingnya kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan.
“Pengobatan harus dijalani secara rutin dan tidak boleh putus. Kalau sampai terhenti, berpotensi menimbulkan resistensi obat, yang penanganannya jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama,” tegas Amir Hidayat.
Ikuti Akses.co.id
