Akses.co.id — Lebih dari 250 warga India yang mengklaim keturunan salah satu suku dalam Alkitab tiba di Bandara Ben Gurion, Israel, pada Kamis (23/4/2026). Kedatangan mereka merupakan bagian dari operasi pemerintah Israel untuk memfasilitasi migrasi ribuan anggota komunitas Bnei Menashe.
Rombongan tersebut mendarat sekitar pukul 22.00 waktu setempat, disambut dengan meriah oleh para pendukung dari komunitas yang sama. Bendera kecil Israel berkibar dan lagu “Oseh Shalom” mengalun, menciptakan suasana haru di antara para imigran yang tampak lelah setelah perjalanan panjang.
Para pria dalam rombongan mengenakan kippah rajutan atau penutup kepala, sementara perempuan yang telah menikah memakai penutup kepala sesuai tradisi Yudaisme Ortodoks. Momen pertemuan kembali dengan keluarga dan kerabat setelah bertahun-tahun berpisah diwarnai keharuan, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata bahagia.
Wajib Jalani Konversi Agama
Sebanyak 250 anggota Bnei Menashe yang baru tiba dijadwalkan akan menetap di wilayah utara Israel. Untuk dapat memperoleh kewarganegaraan Israel, mereka diwajibkan menjalani proses konversi ke agama Yahudi.
Dagan Zolat, seorang anggota komunitas yang telah tinggal di Israel selama 20 tahun, mengungkapkan kebahagiaannya saat menjemput kerabatnya. “Kami bertetangga dan termasuk satu-satunya orang Yahudi di desa kami,” ujarnya kepada AFP, mengenang sembilan tahun perpisahan. Ia menambahkan, “Ketika putra saya masih kecil (di India), teman saya sering menggendongnya.”
Menteri Imigrasi Israel, Ofir Sofer, yang turut hadir dalam penyambutan, menyatakan bahwa kedatangan ini menandai awal dari sebuah operasi besar. “Ini adalah awal dari sebuah operasi yang akan memungkinkan seluruh komunitas untuk berimigrasi, 1.200 orang per tahun,” katanya.
Di sisi lain, wilayah Manipur di India, tempat asal sebagian imigran, masih dilanda konflik berkepanjangan antara kelompok Meitei dan Kuki yang telah merenggut lebih dari 250 nyawa. Sementara itu, data menunjukkan bahwa sejak April 2025, lebih dari 18.000 orang Yahudi telah bermigrasi ke Israel, meskipun angka tersebut mengalami penurunan sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Rencana Relokasi Skala Besar
Menurut laporan NDTV, rombongan ini adalah gelombang pertama kedatangan anggota Bnei Menashe sejak pemerintah Israel pada November lalu menyetujui pembiayaan untuk pemindahan ribuan anggota komunitas dari Mizoram dan Manipur, India timur laut.
Komunitas Bnei Menashe mengklaim sebagai keturunan Suku Manasseh dalam Alkitab dan telah bermigrasi secara bertahap ke Israel sejak tahun 1990-an. Meskipun asal-usul mereka masih menjadi subjek perdebatan, arus migrasi ini diperkirakan akan meningkat setelah pemerintah menyetujui relokasi sekitar 6.000 anggota yang tersisa hingga tahun 2030 dalam program yang dikenal sebagai “Operasi Sayap Fajar.”
Kedatangan kali ini merupakan tahap awal dari rencana yang lebih ambisius, dengan target kedatangan sekitar 1.200 orang sepanjang tahun 2026. Kementerian Aliyah dan Integrasi Israel bahkan mengumumkan dua penerbangan tambahan yang dijadwalkan dalam waktu dekat.
Organisasi Shavei Israel mencatat bahwa sekitar 4.000 anggota komunitas Bnei Menashe telah bermigrasi ke Israel sejak tahun 1990-an, sementara sekitar 7.000 lainnya masih menetap di India. Secara historis, mereka memiliki perjalanan panjang melintasi Persia, Afghanistan, Tibet, hingga China, sembari tetap mempertahankan praktik keagamaan Yahudi seperti sunat. Di India, komunitas ini juga sempat mengalami kristenisasi oleh misionaris pada abad ke-19.
Ikuti Akses.co.id
