Akses.co.id — Harga Random Access Memory (RAM) untuk jenis DDR4 dan DDR5 dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan setelah mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun lalu. Kondisi ini disambut baik oleh para perakit PC, gamer, pelaku industri grafis, dan pengguna lain yang sangat bergantung pada ketersediaan RAM.
Setelah melonjak hingga 2.200 persen dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, yang sebagian besar dipicu oleh ledakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI), grafik harga memori kini mulai memperlihatkan penurunan untuk pertama kalinya dalam hampir setahun.
Penurunan Harga RAM Mulai Terasa
Berdasarkan data terbaru dari DigiTimes, harga spot untuk RAM DDR4 berkapasitas 16 GB tercatat mengalami penurunan sekitar 5 persen sepanjang bulan lalu. Angka ini menempatkan harganya di kisaran 74,10 dollar AS atau setara Rp 1,27 juta. Ini merupakan penurunan bulanan pertama sejak Februari tahun sebelumnya.
Sebagai gambaran, komponen yang sama setahun lalu hanya dihargai sekitar 3,20 dollar AS. Meskipun sudah mengalami penurunan 5 persen, harga RAM DDR4 16 GB saat ini masih tercatat 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan tahun lalu.
Tanda-tanda penurunan serupa juga terlihat pada varian DDR5. RAM DDR5 berkapasitas 16 GB dilaporkan turun ke kisaran harga 37,20 dollar AS. Penurunan harga yang paling tajam justru terpantau di pasar ritel dan channel distributor di China, serta di platform belanja daring seperti Amazon.
Berdasarkan laporan dari KompasTekno yang mengutip Tom’s Hardware, di bursa China, harga beberapa kit memori DDR5 32 GB dilaporkan anjlok hingga 30 persen. Sementara itu, modul DDR4 berkapasitas 8 GB dan 16 GB mengalami penurunan tajam hingga 25 persen.
Dua Faktor Pemicu Penurunan Harga
Lantas, apa yang memicu penurunan harga RAM yang terkesan mendadak ini?
1. “Cuci Gudang” Distributor
Penyebab pertama adalah langkah para distributor, terutama di China, yang sebelumnya melakukan penimbunan stok secara masif saat harga berada di puncak. Kini, mereka mulai melakukan “cuci gudang” atau melepas stok yang tersisa.
Langkah ini diambil karena vendor-vendor kecil dinilai tidak lagi sanggup menyerap komponen dengan harga yang sangat tinggi, terlebih di tengah melemahnya permintaan dari konsumen kelas PC rumahan.
2. Inovasi Kompresi Memori dari Google
Penyebab kedua yang tak kalah menarik adalah pengumuman terbaru dari Google. Pada akhir Maret lalu, raksasa teknologi ini memperkenalkan teknologi bernama “TurboQuant”. Teknik kompresi memori ini diklaim mampu memangkas penggunaan memori cache hingga enam kali lipat saat menjalankan model bahasa besar (LLM).
Inovasi dari Google ini dilaporkan membuat para penimbun RAM menjadi panik. Kekhawatiran muncul bahwa permintaan memori dari perusahaan hyperscaler (penyedia pusat data skala besar) akan menurun drastis apabila teknologi TurboQuant diadopsi secara luas. Hal ini mendorong mereka untuk segera mencairkan stok RAM yang ada ke pasar.
Potensi Dampak Jangka Panjang yang Belum Pasti
Meskipun harga spot RAM mulai menunjukkan tren penurunan, belum tentu harga laptop atau PC rakitan dari pabrikan besar (OEM) akan langsung turun drastis dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan transaksi spot hanya mewakili sebagian kecil dari total perputaran industri memori.
Para produsen laptop dan perakit PC besar umumnya melakukan pembelian RAM melalui skema kontrak jangka panjang. Berdasarkan riset dari TrendForce, harga memori di pasar kontrak justru diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan.
Diprediksi, harga DRAM konvensional akan melonjak antara 58 hingga 63 persen, sementara NAND Flash yang digunakan untuk SSD diprediksi akan melompat antara 70 hingga 75 persen pada kuartal kedua tahun 2026.
Oleh karena itu, bagi individu yang berencana merakit PC baru atau sekadar menambah kapasitas RAM, terutama untuk varian DDR5, momentum penurunan harga saat ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengamankan komponen incaran sebelum harganya kembali berpotensi naik.
Ikuti Akses.co.id
