— Universitas Gadjah Mada (UGM) memproyeksikan akan menerima 2.837 peserta melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Angka ini mencakup sekitar 30 persen dari total kapasitas program sarjana dan sarjana terapan di UGM. Pelaksanaan seleksi tahun ini mengandalkan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang terpusat secara nasional, dengan mekanisme yang terus disempurnakan demi menjaga objektivitas dan pemerataan akses.

Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengajaran (DPP) UGM, Prof. Gandes Retno Rahayu, menegaskan bahwa sistem seleksi tahun ini berupaya memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta. Perubahan mendasar terletak pada mekanisme penempatan peserta. Kini, peserta hanya menentukan kota lokasi ujian, sementara panitia pusat akan melakukan distribusi peserta ke perguruan tinggi di kota tersebut secara merata.

“Kami ingin semua peserta punya peluang yang sama, tanpa bergantung pada pilihan lokasi tertentu,” ujar Gandes, mengutip laman UGM pada Sabtu (25/4/2026). Skema baru ini dirancang tidak hanya untuk menjaga keadilan, tetapi juga untuk meningkatkan keamanan dalam penyelenggaraan seleksi.

Minat Calon Mahasiswa Terus Meningkat

Peningkatan minat calon mahasiswa untuk melanjutkan studi di UGM terpantau signifikan dari berbagai daerah di Indonesia. Reputasi akademik UGM yang kuat dan kepercayaan masyarakat luas menjadikannya tujuan pendidikan tinggi yang primadona, bahkan hingga ke luar Pulau Jawa.

Lingkungan belajar yang inklusif juga menjadi daya tarik tersendiri. Gandes menambahkan, “Banyak yang datang dengan harapan memperbaiki masa depan, dan kami melihat itu sebagai sesuatu yang sangat berarti.” Selain reputasi, faktor Yogyakarta sebagai kota pelajar dengan biaya hidup terjangkau dan suasana akademik yang kondusif turut memengaruhi pilihan calon mahasiswa.

“Di sini mereka bukan hanya kuliah, tapi juga belajar hidup dan berkembang bersama,” jelas Gandes mengenai lingkungan yang egaliter di Yogyakarta.

Program Studi Favorit dan Strategis

Menurut Gandes, pilihan program studi oleh calon mahasiswa cenderung strategis. Program seperti Kedokteran, Hukum, dan Psikologi masih mendominasi dengan tingkat persaingan yang tinggi. Selain itu, bidang Teknik, Manajemen, serta Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer menunjukkan peningkatan minat yang pesat, mencerminkan pertimbangan terhadap prospek karier di masa depan.

“Banyak keluarga melihat pendidikan sebagai jalan untuk membuka peluang yang lebih luas bagi anak-anaknya,” ungkapnya.

Fasilitas Pendukung dan Adaptasi Mahasiswa

Untuk mendukung mahasiswa dari berbagai latar belakang, UGM menyediakan sistem pendukung yang komprehensif. UGM Residence menawarkan hunian bagi lebih dari 1.500 mahasiswa, dilengkapi fasilitas ruang belajar, kantin, dan keamanan 24 jam.

Berbagai program beasiswa, termasuk KIP Kuliah dan skema afirmasi bagi daerah 3T, juga tersedia. “Kami ingin mahasiswa bisa fokus belajar tanpa terlalu terbebani oleh hal-hal di luar akademik,” kata Gandes.

Proses adaptasi mahasiswa baru difasilitasi melalui kegiatan orientasi PIONIR, yang bertujuan membantu mahasiswa mengenal lingkungan kampus dan membangun jejaring pertemanan. Asrama mahasiswa juga berperan sebagai ruang interaksi lintas budaya.

Respons terhadap Tren Minat Studi

UGM juga terus beradaptasi dengan dinamika minat calon mahasiswa. Salah satu perhatian adalah tren penurunan minat pada matematika murni. Menanggapi hal ini, UGM mengembangkan kurikulum yang lebih kontekstual dan aplikatif, mengintegrasikan matematika ke dalam bidang seperti data science, kecerdasan buatan (AI), dan aktuaria.

Pendekatan lintas disiplin ini menjadi strategi UGM untuk menjaga relevansi pendidikan tinggi. “Kami ingin apa yang dipelajari di kampus benar-benar terasa manfaatnya ketika mereka terjun ke masyarakat,” pungkas Gandes.